Selasa, 27 Agustus 2013
Kesenian Kriya 33 Provinsi Indonesia
Hufftt....
dkasih tgas yang lmayan sulit ama guru...
Tapi untungnya udah selsai...
cma sekedar ma share aja....
Link :
Download
Minggu, 25 Agustus 2013
Robot Canggih
Konnichiwa, Minna-san!!! ^_^
Kali ini ane mw ngepost soal robot-robot canggih nih...
Soalnya, baru aja di kasih jadiin tugas ama guru....
(disekolah masih sempat Online.... hehehe...)
Kali ini ane mw ngepost soal robot-robot canggih nih...
Soalnya, baru aja di kasih jadiin tugas ama guru....
(disekolah masih sempat Online.... hehehe...)
Sabtu, 24 Agustus 2013
Jumat, 23 Agustus 2013
Minggu, 14 Juli 2013
Daftar Seiryuu dari Indonesia
Konbanwa, Minna-san.... ^_^
Kali ini, saya mau bagi info soal seiryuu atau pengisi sura anime yang berasal dari negeri kita tercinta, Indonesia. Mereka-mereka inilah yang membantu kita menikmati menonton anime saat kita kecil dulu dengan suara mereka...
Yosh!!
langsung aja, tanpa basa basi.....
Jumat, 12 Juli 2013
Kamis, 04 Juli 2013
Rabu, 03 Juli 2013
Kamis, 30 Mei 2013
Kamis, 23 Mei 2013
Lirik Lagu The ROOTLESS Kawaritai to, tsuyoku nozome. Sore igai wa, iranai
Vocal(s): by The ROOTLESS
PENYAKIT ATAU KELAINAN PADA SISTEM REPRODUKSI MANUSIA
PENYAKIT DAN KELAINAN SISTEM
REPRODUKSI PADA MANUSIA
Rabu, 22 Mei 2013
Selasa, 21 Mei 2013
Lirik OST Ano Hana Aoi Shiori
Vocal(s): by Galileo Galilei
Description: Ano Hi Mita Hana no Namae o Boku-tachi wa Mada Shiranai. – Opening theme
Lirik OST Kuroko no Basket Can Do
Lyrics written by Kishō Taniyama
Music composed by Masaaki Iizuka
Arranged by Masaaki Iizuka
Performed by GRANRODEO
No Title
Ehm!
Etooo...
berhubung yang punya blog orang yang gaptek alias GAGAP TEKNOLOGI, jadi dimaklumin aja kalo isinya rada-rada nggak jelas...
Ehehe....
Trus saya nulis cerita ini hanya untuk ngisi waktu luang (meskipun sebenarnya nggak sih)...
Tapi, terimakasih udah mau singgah di blog saya dan mau baca cerita En Jel (Endak Jelas) ini...
Kalo abis baca, trus ketemu ama saya, tolong jangan dibahas tentang cerita ini...
####
Bulan purnama bersinar
terang, waktu menujukkan pukul 12 tepat. Suasana Kota Kendari hening dan hanya
beberapa kendaraan bermotor saja yang lalu lalang. Begitu pula disebuah rumah
besar yang terletak di pinggir pantai Mayaria. Suasana rumah itu begitu tenang
dan damai, hanya dua orang satpam saja yang bersiaga penuh ditemani dua cangkir
kopi di pos jaga mereka. Disekeliling rumah banyak tanaman hias dan juga
pohon-pohon besar yang rindang. Suara ombak menghempas batu-batu besar disekitar
rumah itu sangat menenangkan dan menghanyutkan.
Beberapa bulan yang
lalu, rumah itu diselimuti kebahagiaan yang luar biasa besar. Seorang anak pasangan
suami-istri pemilik rumah itu baru saja lahir tepat dibulan Februari pada
tanggal 8. Pasangan suami-istri itu begitu bahagia, begitu pula para pelayan
sampai satpam mereka. Bayi perempuan itu diberi nama Aoi Mermaida Koral.
Jam duabelas lewat lima
menit. Sesisi rumah dikagetkan dengan teriakkan Shaky, istri si pemilik rumah.
Semua orang panik, begitu pula Roman, si pemilik rumah. Roman kaget melihat
mimik wajah istrinya. Begitu menakutkan dan mengerikan.
“Shiky! Ada apa?!
Kenapa kamu berteriak?!!” Tanya Roman panik sambil mengguncang pelan tubuh
Shiky yang terduduk beku.
Shiky menatap box bayi
biru laut tempat anak perempuannya tidur. Box itu hancur berkeping-keping,
bahkan mainan yang tergantung diatas box bayi itu tergeletak begitu saja diatas
lantai keramik. Shiky menunjuk box bayinya dengan tatapan khawatir,
perlahan-lahan air matanya jatuh satu persatu kemudian mengucur deras diatas
pipinya.
Roman mengikuti arah yang ditunjukkan Shiky,
dan juga terpaku kaget. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa menerobos
penjagaan rumah itu. Padahal setiap sudut rumah sudah dipasang cctv, setiap jendela
pasti ada tralinya. Tidak mungkin ada orang yang bisa masuk rumah. Roman
langsung bangkit dan keluar kamar, semua pelayan yang sudah siaga didepan pintu
dengan pakaian rapi langsung berdiri tegak.
“Cari orang itu,
segera!!” perintah Roman. Dan dalam waktu kurang dari sepuluh menit, kedamaian di
rumah itu mulai terusik.
Semua pelayan sibuk
mencari bayi yang hilang itu, tak terkecuali kedua orang tua mereka. Saat Shiky
mulai putus asa dan terduduk di pasir tepat didepan sebuah batu besar,
seseorang muncul diatas batu besar itu sambil memegang trisula emas dan
menggendong seorang bayi yang dibungkus dengan kain berwarna biru laut.
“Ayah!!” pekik Shiky
kaget dengan mata membelalak kearah laki-laki yang berbadan besar dengan
jenggot putih melewati leher.
“Ayah!!” sahut Roman,
semua pelayan berkumpul di belakang kedua pasangan suami-istri itu. Mereka
serentak duduk sambil membungkukkan badan.
“Lama tidak bertemu,
Shiky, Roman!!” sahut sosok yang berdiri diatas batu itu.
“Ayah! Kenapa ayah bisa
ke sini?” Tanya Shiky.
“Oh! Tentu saja karena
ayah mau bertemu dengan cucu tunggal ayah! Lihat! Betapa cantiknya dia! Seperti
dirimu sewaktu masih kecil…” laki-laki itu memandang wajah bayi perempuan
digendongannya. “Dan dia mirip ibumu. Kecantikkannya tak tertandingi”
“Ayah! Tolong kembalikan
Aoi pada kami…” pinta Roman setengah memohon.
“Pasti kukembalikan.
Tapi setelah dia menerima seluruh kekuatan dan kekuasaanku!”
“Tapi ayah!! Dia masih
kecil, umur dia baru beberapa bulan! Tidak bisakah ayah menunggu sebentar
lagi?!” protes Shiky.
“Ayah tidak suka
menunggu. Lagi pula, kelihatannya dia tangguh, cerdas, dan punya kekuatan yang
tersembunyi didalam dirinya. Ayah tidak sabar melihat dia mengendalikan
kekuatannya…”
Lalu sosok laki-laki
itu meletakkan jari telunjukknya di lengan kanan bagian atas si bayi. Angin merhembus
kencang membuat jubah merah yang dipakai dipunggungnya bergerak dan
memperlihatkan ekor ikan hiu yang sangat besar dan bercahaya berwarna biru
keabu-abuan. Cahaya biru menyilaukan keluar dari jari telunjuk sosok itu yang
sudah mengenai lengan atas bayi yang digendongnya. Bayi perempuan itu
bergetar dan mengeliat hebat. Matanya
yang sama sekali belum bisa melihat apa-apa terbuka lebar-lebar. Bibirnya
seketika pucat, pupil matanya yang hitam tiba-tiba berubah menjadi sewarna biru
laut, rambutnya berbah menjadi hitam kebiru-biruan begitu pula alisnya, dan
kulitnya berubah menjadi putih pucat. Kedua kaki bayi itu tiba-tiba berubah
menjadi ekor ikan hiu berwarna biru laut dari panggul sampai ujung kaki.
Semua orang yang
melihat proses metamorfosa itu terjadi, membelalak tidak percaya. Bayi manusia
diubah menjadi bayi duyung dalam waktu kurang dari lima menit.
“Ayah! Dia tidak akan
bisa hidup didaratan kalo dia berwujud seperti itu!!” teriakkan Shiky tidak
membuat ayahnya menghentikan tingkah lakunya.
Beberapa menit
kemudian, kaki bayi itu kembali seperti semula. Ayah Shiky masih terus
melekatkan telunjuknya di lengan atas bayi itu. Lalu perlahan-lahan cahaya biru
menyilaukan yang akan membutakan mata manusia biasa itu mulai memudar. Ayah
Shiky tersenyum puas sambil menarik telunjuknya dan mengepalkan tangannya. Bayi
digendongannya tidak bereaksi apa-apa. Tidak menangis, pingsan, apalagi
tertawa. Shiky dan Roman menunggu dengan perasaan cemas.
Ayah Shiky melompat
dari atas batu besar itu dan berdiri didepan Shiky. “Ini anakmu. Aku sudah
memberinya apa yang dia butuhkan. Lain kali ajaklah dia ke kerajaan bawah laut
kita. Dan jangan lupa, basuh dengan air laut!!” pesan ayah Shiky lalu
menghilang dibalik batu.
Shiky memeluk putrinya,
tapi bayi itu masih tetap tidak bergerak dan matanya masih membelalak
lebar-lebar. Shiky menatap wajah putrinya. “Ada apa, Little mermaid-ku? Kau
merasa sakit? Ayo bergeraklah, bersuaralah, menagis juga tak apa. pokoknya
lakukan apa saja…” pinta Shiky pelan
sambil menitikkan air mata.
Roman memeluk istrinya
yang masih terduduk lesu diatas pasir pantai yang berwarna putih. Dia lalu
memandang wajah putrinya juga. “Little mermaid, papa mohon…” Roman lalu
mengelus kepala putrinya.
Bayi itu terlinjak
kaget dan mengerjapkan matanya. Semua orang ikutan kaget. Semenit berlalu,
Shiky dan Roman mulai putus asa. Lalu tiba-tiba setitik air jatuh diatas pasir
dan berubah menjadi mutiara kecil yang berkilauan meskipun berukuran kecil.
Bibir bayi itu bergetar badannya mula menggeliat-geliat didalam pelukan ibunya.
Lalu, “OWEEEEEKKK!!! OWEEEEEEKK!!! OWEEEEKKK!!!”
Bayi itu menangis keras
sekali, tetapi hanya orang-orang yang ada dipantai saat itu saja yang bisa
mendengar suaranya yang seperti bunyi lonceng yang merdu. Semuanya terhanyut
karena bunyi itu, tetapi Shiky masih tetap tidak bisa tenang, karena
perasaannya masih belum enakkan. Lalu semua orang terbelalak kaget melihat
darah mengucur deras dari lengan kanan bayi itu.
“Obat merah! Alkohol!!
Pokoknya apa saja yang bisa menyembuhkan luka berdarah, kalian bawa kesini!!!”
perintah Roman.
Semua pelayan langsung
lari tunggang-langgang setelah mendengar perintah. Ada yang berlari masuk
kerumah, ada yang berlari ke jalan raya untuk pergi ke apotik, kerumah warga,
bahkan kekandang ternak milik warga. Satu-persatu pelayan sudah kembali. Segala
macam jenis obat sudah diberikan untuk menghentikan pendarahannya, tapi darah
itu malah makin mengalir deras.
“Apa yang harus kita
lakukan?!” Tanya Shiky panik, begitu pula semua pelayan yang berjumlah sekitar limapuluh orang.
“Apa yang harus kita
lakukan sekarang?!” Roman mencoba berpikir keras. “Sudah kubilang, basuh pake air laut….” Suara itu tiba-tiba
terdengar oleh Roman, dia lalu merobek kain baju tidurnya dan membasahinya
dengan air laut. Saat hendak membasuh luka putrinya, tangannya dihentikan oleh
Shiky.
“Hentikan, Roman! Kamu
mau dia lebih kesakitan lagi? Sudah cukup ayah yang membuatnya jadi seperti
ini!” tegur Shiky.
“Shiky! Percayalah
padaku!” kata Roman lalu membasuh luka putrinya menggunakan kain bajunya.
Perlahan-lahan luka itu menutup. Tapi karena sudah terlalu lama atau karena
memang disengaja oleh orang tua tadi itu, luka bayi itu meninggalkan bekas yang
berbentuk putri duyung memegang buket bunga dengan sebuah bunga terselip di
salah satu telinganya.
***
Jam setengah tujuh, Aoi
sudah selesai sarapan dan bersiap kesekolah. Sebelum keluar rumah, dia kembali
memeriksa seragam putih abu-abunya yang sudah disetrika rapi, topi dan dasi
yang dikenakannya, sepatu hitam dan kos kaki putihnya juga. Selesai memeriksa
semua atribut sekolahnya, Aoi membetulkan jam tangan biru lautnya yang kurang
pewe dan merapikan rambutnya yang sebatas bahu. Setelah itu, Aoi berjalan
keluar rumah sambil menggandeng beberapa buku cetaknya dan memakai tas punggung
hitam kesayangannya.
Didepan gerbang
rumahnya, Aoi menunggu angkot yang masih satu persatu lewat. Biasanya angkot
baru ramai kalo udah tinggal lima menit jam tujuh.
Aoi berdiri dalam diam.
Setelah beberapa menit menunggu, dia lalu mengedarkan pandangan kalo-kalo ada
teman yang berasal dari sekolah yang sama dengannya. Aoi melihat seorang siswi
cewek yang berdiri nggak jauh dari tempatnya, kebetulan dia teman sekelas Aoi.
Cewek itu melihat Aoi. Mereka sempat saling menatap beberap menit sebelum cewek
itu buru-buru langsung menundukkan wajah. Padahal, Aoi baru saja mau
menyapanya.
Angkot yang ditunggu
datang, Aoi segera naik. Saat angkot itu berdiri didepan cewek teman sekelas
Aoi, cewek itu nggak mau naik angkot. Dia sempat memandang takut pada Aoi
sekilas. Itu membuat Aoi tertunduk lesu.
****
Jam tujuh kurang dua
menit, dengan tergopoh-gopoh serta nafas ngos-ngosan, Dika berusaha menerobos
pagar yang mulai ditutup oleh Pak Samit, satpam SMA Nusa. Karena gerakan Dika
yang langsung nerobos itu Pak Samit hampir aja ngejepit badan Dika di pintu
pagar.
“Hei!! Dika!!” tegur
Pak Samit. “Kamu ini! Nggak bisa bilang permisi dulu, apa?”
Dika cengengesan.
“Sorry, Bang Bro!!” balas Dika sambil melambaikan tangan kanannya
tinggi-tinggi. Dia lalu berlari secepat mungkin menuju barisan kelasnya yang berada
tepat disamping barisan guru.
Upacara hari ini nggak
beda dengan upacara dihari-hari sebelumnya. Mulai jam tujuh tepat, matahari
bersinar cerah dan awan nggak bisa diajak kompromi karena semuanya udah pada
ngilang sehingga langit menjadi bersih dan benar-benar biru, barisan guru yang
saat upacara baru dimulai begitu rapi tapi ketika Pembina upacara memberikan
message and instruction, barisan itu mulai menjadi gaduh, barisan kelas dua
belas yang berada tepat disamping barisan guru, barisan kelas sebelas yang
berada didepan barisan kelas dua belas dan barisan guru, serta barisan kelas
sepuluh yang menghadap Pembina upacara dan tiang bendera.
“Excuse me! Kasih gue tempat dong!!” tegur Dika pada barisan
didepannya setelah dia membuang tasnya begitu aja di taman depan kelas XII-iA
1. Setelah teman-teman Dika sepakat memberikan barisan paling depan buat Dika,
Dika langsung berjalan pelan menuju tempatnya, takut kalo ada guru yang
melihantnya mengacaukan barisan.
Setelah berdiri
didepan, Dika langsung mengedarkan pandangannya keseluruh peserta upacara yang
bisa diliatnya. Pandangannya terpaku pada sosok cewek yang berdiri sejejar
dengan moderator upacara. Dia lalu melirik Sinta, cewek yang kebetulan berbaris
disebelahnya.
“Sin! Tu cewek siapa?
Tugas dia apa? Setau gue semua pelaksana upacara udah pada lengkap. Ngapain dia
baris sejajar dengan moderator?” Dika melirik cewek itu.
“Lo nggak tau?! Tu
cewek kan pemegang predikat siswa teladan disekolah ini selama dua tahun
berturu-turut. Dan sekarang dia bakal diberikan gelar itu lagi untuk tahun
ketiganya!”
“Eh?!” Dika memekik,
sontak semua paserta upacara yang mendengarnya langsung melotot garang pada
Dika soalnya suasana udah pada tenang karena upacara udah dimulai. Dika
langsung menyebarkan senyumnya – yang katanya bisa memikat hati cewek-cewek –
kepada semua orang yang melototinya. “Kok gue baru liat, ya?”
“Ya elah! Selama ini
kan lo selalu nggak ikut upacara, dan kalopun lo ikut, lo selalu baris paling
belakang, jadi nggak bakal mungkin lo tau!”
“Hehehe!” Dika malah
nyengir. “Lo tau lah…. Bagi gue, insting mengalahkan semuanya!”
Upacara selesai, semua
siswa berbondong-bondong menuju kantin dan kelas masing-masing untuk berlindung
dari teriknya matahari. Aoi berjalan pelan menuju kelasnya, XII-iA 1. Aoi
berjalan lesu sambil memegang kertas yang untuk ketiga kalinya dia peroleh. Sebelum
masuk kelas, Aoi duduk sebentar diteras depan kelasnya. Aoi terus saja
memperhatikan orang yang lalu lalang didepannya dan sesekali membaca tulisan
yang ada dikertas yang dipegangnya.
Aoi menatap taman kecil
didepannya. Taman itu dipenuhi bunga-bunga yang beraneka warna, ada merah,
kuning, dan pink. Selain itu ada juga beberapa pohon kecil yang mulai rindang
meskipun belum bisa dijadikan tempat berteduh. Aoi melihat beberapa kupu-kupu
hinggap di bunga yang berwarna merah yang tumbuh di sudut paling depan taman.
Lalu sebuah kepala nyembul dari balik bunga yang tingginya selutut itu.
Dika menyembulkan
kepalanya untuk memastikan kalo tidak ada lagi guru yang berada didekat tempat
persembunyiannya. Saat upacara tadi, Dika ketahuan tidak berseragam lengkap,
yakni kurang ikat pinggang. Selain itu, tali sepatu Dika juga berwarna merah
ngejreng, jadi sejak awal emang dia sudah pasti kena patroli. Jadi saat para
siswa udah mulai bubar, Dika santai banget ikut bubar padahal barisan yang kena
patroli sama sekali belum dibubarkan, bahkan mungkin sampai jam istirahat.
Sialnya, saat udah hampir mengambil tasnya, Bu Ika, guru piket jaga hari senin
sekaligus guru BK nongol dari balik pohon yang berada dekat dengan kelas XII-iA
1. Jadi mau nggak mau, Dika terpaksa lompat kedalam taman dan bersembunyi
sampai keadaan aman.
Aoi terlonjak kaget.
Dia hampir aja berteriak, tapi kemudian menutup mulutnya. Berteriak pun tak akan ada yang menghiraukanku, batin Aoi. Aoi
hanya bisa menatap bingung cowok yang nggak dikenalinya itu.
“Sssttt!!!” Dika
menempelkan telunjuknya di bibir sambil memandang wajah Aoi. “Jangan ngomong
kesiapa-siapa, ya?! Hanya tiga aja yang boleh tau. Gue, lo, dan Tuhan Yang Maha
Melihat. Okey?” Aoi hanya mengangguk. Dika lalu berdiri dan berjalan dengan
santainya.
Aoi segera berdiri dan
berjalan menunju pintu kelasnya. Belum sempat masuk kedalam kelas, Dika kembali
lagi dengan nafas ngos-ngosan.
“Tas gue ketinggalan!!”
pekik Dika sambil cengengesan. Dia lalu mengedarkan pandangannya sekeluruh
pelosok taman, tapi dia tidak menemukannya. Lalu matanya tertuju pada sesuatu
yang berada tidak pada seharusnya. “Taaaasskuuuuu!!!” pekik Dika lalu berhambur
menuju Aoi.
“Maaf, aku menemukannya.
Aku pikir ini milik salah satu temanku” Aoi berbicara sambil tertunduk,
berusaha membuat wajahnya tersembunnyi dibalik rambutnya yang sebahu.
“Ah! Tidak usah sungkan
begitu!! Gue tau kalo lo nggak mungkin mau berniat jahat kan?!” Aoi hanya
mengangguk masih tetap tertunduk. “Nah!! Sekarang gue mau balik kekelas gue
dulu, bye!!” Dika langsung ngibrit
kekelasnya.
“Baru kali ini ada
orang yang ngomong gitu ama aku…” Aoi masih terus tertunduk. Tiba-tiba dia
merasakan air matanya jatuh. Dia senang sekali ada yang ngomong normal ama dia.
***
Langganan:
Komentar (Atom)




.jpg)

.jpg)




.jpg)





