Kamis, 23 Mei 2013

Lirik OST Naruto Harumonia


Vocal(s): Rythem
Description: Naruto – ED2

Lirik Lagu Rythem Tenkyu


Vocal(s): by Rythem

Lirik OST One Piece One day


Vocal(s): by The Rootless
Description: One Piece – 13th opening theme

Lirik Lagu The Rootless Real


Vocal(s): by The Rootless

Lirik Lagu The Rootless Sayonara no mae ni


Vocal(s): by The Rootless


Lirik Lagu The ROOTLESS Kawaritai to, tsuyoku nozome. Sore igai wa, iranai


Vocal(s): by The ROOTLESS

Lirik Lagu The ROOTLESS Yumemigaoka


Vocal(s): by The ROOTLESS

Lirik OST Sket Dance Comic Sonic


Vocal(s): by The Pillows
Description: Sket Dance – Ending theme

PENGGUNAAN INTERNET DAN INTRANET


PENGGUNAAN INTERNET DAN INTRANET

MALIN KUNDANG (ENGLISH)


MALIN KUNDANG

UNSUR INRINSIK PADA NOVEL SITI NURBAYA

UNSUR INRINSIK PADA NOVEL SITI NURBAYA


PENYAKIT YANG MENYERANG SISTEM EKSKRESI


PENYAKIT YANG MENYERANG SISTEM EKSKRESI

PENYAKIT ATAU KELAINAN PADA SISTEM REPRODUKSI MANUSIA


PENYAKIT DAN KELAINAN SISTEM REPRODUKSI PADA MANUSIA

Selasa, 21 Mei 2013

Lirik OST Ao no Exorcist Take Off



Vocal(s): by 2PM
Description: Blue Exorcist – Ending theme


Lirik OST Ao no Exorcist Core Pride



Vocal(s): by UVERworld
Description: Blue Exorcist – Opening theme


Lirik OST Ao no Exorcist Wired Life



Vocal(s): by Kuroki Meisa
Description: Blue Exorcist – 2nd ending theme


Lirik OST Ao no Exorcist In My World


Vocal(s): by ROOKiEZ is PUNK’D
Description: Blue Exorcist – 2nd opening theme


Lirik OST Bakuman 2 Dream of Life


Vocal(s): by Shouhei Itou
Description: Bakuman. 2 – 1st opening theme


Lirik OST Bakuman 2 Monochrome Rainbow


Vocal(s): by Tommy heavenly6
Description: Bakuman. 2 – 1st ending theme


Lirik OST Bakuman BAKUROCK ~Mirai no Rinkakusen~


Vocal(s): by YA-KYIM
Description: Bakuman – Ending theme


Lirik Ost Bakuman Blue Bird



Vocal(s): by Kobukuro
Description: Bakuman – Opening theme


Lirik OST Astarotte no Omocha! Tenshi no CLOVER


Vocal(s): by Aimi
Description: Astarotte no Omocha! – Opening theme


Lirik OST Ano Hana Aoi Shiori


Vocal(s): by Galileo Galilei
Description: Ano Hi Mita Hana no Namae o Boku-tachi wa Mada Shiranai. – Opening theme


Lirik OST Kimi to Boku Bye Bye


Vocal(s): by 7!!
Description: Kimi to Boku. – Opening theme


Lirik OST Kuroko no Basket Can Do


Lyrics written by Kishō Taniyama
Music composed by Masaaki Iizuka
Arranged by Masaaki Iizuka
Performed by GRANRODEO


No Title


Ehm!
Etooo...
berhubung yang punya blog orang yang gaptek alias GAGAP TEKNOLOGI, jadi dimaklumin aja kalo isinya rada-rada nggak jelas... 
Ehehe....
Trus saya nulis cerita ini hanya untuk ngisi waktu luang (meskipun sebenarnya nggak sih)...
Tapi, terimakasih udah mau singgah di blog saya dan mau baca cerita En Jel (Endak Jelas) ini...

Kalo abis baca, trus ketemu ama saya, tolong jangan dibahas tentang cerita ini...



####
Bulan purnama bersinar terang, waktu menujukkan pukul 12 tepat. Suasana Kota Kendari hening dan hanya beberapa kendaraan bermotor saja yang lalu lalang. Begitu pula disebuah rumah besar yang terletak di pinggir pantai Mayaria. Suasana rumah itu begitu tenang dan damai, hanya dua orang satpam saja yang bersiaga penuh ditemani dua cangkir kopi di pos jaga mereka. Disekeliling rumah banyak tanaman hias dan juga pohon-pohon besar yang rindang. Suara ombak menghempas batu-batu besar disekitar rumah itu sangat menenangkan dan menghanyutkan.
Beberapa bulan yang lalu, rumah itu diselimuti kebahagiaan yang luar biasa besar. Seorang anak pasangan suami-istri pemilik rumah itu baru saja lahir tepat dibulan Februari pada tanggal 8. Pasangan suami-istri itu begitu bahagia, begitu pula para pelayan sampai satpam mereka. Bayi perempuan itu diberi nama Aoi Mermaida Koral.
Jam duabelas lewat lima menit. Sesisi rumah dikagetkan dengan teriakkan Shaky, istri si pemilik rumah. Semua orang panik, begitu pula Roman, si pemilik rumah. Roman kaget melihat mimik wajah istrinya. Begitu menakutkan dan mengerikan.
“Shiky! Ada apa?! Kenapa kamu berteriak?!!” Tanya Roman panik sambil mengguncang pelan tubuh Shiky yang terduduk beku.
Shiky menatap box bayi biru laut tempat anak perempuannya tidur. Box itu hancur berkeping-keping, bahkan mainan yang tergantung diatas box bayi itu tergeletak begitu saja diatas lantai keramik. Shiky menunjuk box bayinya dengan tatapan khawatir, perlahan-lahan air matanya jatuh satu persatu kemudian mengucur deras diatas pipinya.
 Roman mengikuti arah yang ditunjukkan Shiky, dan juga terpaku kaget. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa menerobos penjagaan rumah itu. Padahal setiap sudut rumah sudah dipasang cctv, setiap jendela pasti ada tralinya. Tidak mungkin ada orang yang bisa masuk rumah. Roman langsung bangkit dan keluar kamar, semua pelayan yang sudah siaga didepan pintu dengan pakaian rapi langsung berdiri tegak.
“Cari orang itu, segera!!” perintah Roman. Dan dalam waktu kurang dari sepuluh menit, kedamaian di rumah itu mulai terusik.
Semua pelayan sibuk mencari bayi yang hilang itu, tak terkecuali kedua orang tua mereka. Saat Shiky mulai putus asa dan terduduk di pasir tepat didepan sebuah batu besar, seseorang muncul diatas batu besar itu sambil memegang trisula emas dan menggendong seorang bayi yang dibungkus dengan kain berwarna biru laut.
“Ayah!!” pekik Shiky kaget dengan mata membelalak kearah laki-laki yang berbadan besar dengan jenggot putih melewati leher.
“Ayah!!” sahut Roman, semua pelayan berkumpul di belakang kedua pasangan suami-istri itu. Mereka serentak duduk sambil membungkukkan badan.
“Lama tidak bertemu, Shiky, Roman!!” sahut sosok yang berdiri diatas batu itu.
“Ayah! Kenapa ayah bisa ke sini?” Tanya Shiky.
“Oh! Tentu saja karena ayah mau bertemu dengan cucu tunggal ayah! Lihat! Betapa cantiknya dia! Seperti dirimu sewaktu masih kecil…” laki-laki itu memandang wajah bayi perempuan digendongannya. “Dan dia mirip ibumu. Kecantikkannya tak tertandingi”
“Ayah! Tolong kembalikan Aoi pada kami…” pinta Roman setengah memohon.
“Pasti kukembalikan. Tapi setelah dia menerima seluruh kekuatan dan kekuasaanku!”
“Tapi ayah!! Dia masih kecil, umur dia baru beberapa bulan! Tidak bisakah ayah menunggu sebentar lagi?!” protes Shiky.
“Ayah tidak suka menunggu. Lagi pula, kelihatannya dia tangguh, cerdas, dan punya kekuatan yang tersembunyi didalam dirinya. Ayah tidak sabar melihat dia mengendalikan kekuatannya…”
Lalu sosok laki-laki itu meletakkan jari telunjukknya di lengan kanan bagian atas si bayi. Angin merhembus kencang membuat jubah merah yang dipakai dipunggungnya bergerak dan memperlihatkan ekor ikan hiu yang sangat besar dan bercahaya berwarna biru keabu-abuan. Cahaya biru menyilaukan keluar dari jari telunjuk sosok itu yang sudah mengenai lengan atas bayi yang digendongnya. Bayi perempuan itu bergetar  dan mengeliat hebat. Matanya yang sama sekali belum bisa melihat apa-apa terbuka lebar-lebar. Bibirnya seketika pucat, pupil matanya yang hitam tiba-tiba berubah menjadi sewarna biru laut, rambutnya berbah menjadi hitam kebiru-biruan begitu pula alisnya, dan kulitnya berubah menjadi putih pucat. Kedua kaki bayi itu tiba-tiba berubah menjadi ekor ikan hiu berwarna biru laut dari panggul sampai ujung kaki.
Semua orang yang melihat proses metamorfosa itu terjadi, membelalak tidak percaya. Bayi manusia diubah menjadi bayi duyung dalam waktu kurang dari lima menit.
“Ayah! Dia tidak akan bisa hidup didaratan kalo dia berwujud seperti itu!!” teriakkan Shiky tidak membuat ayahnya menghentikan tingkah lakunya.
Beberapa menit kemudian, kaki bayi itu kembali seperti semula. Ayah Shiky masih terus melekatkan telunjuknya di lengan atas bayi itu. Lalu perlahan-lahan cahaya biru menyilaukan yang akan membutakan mata manusia biasa itu mulai memudar. Ayah Shiky tersenyum puas sambil menarik telunjuknya dan mengepalkan tangannya. Bayi digendongannya tidak bereaksi apa-apa. Tidak menangis, pingsan, apalagi tertawa. Shiky dan Roman menunggu dengan perasaan cemas.
Ayah Shiky melompat dari atas batu besar itu dan berdiri didepan Shiky. “Ini anakmu. Aku sudah memberinya apa yang dia butuhkan. Lain kali ajaklah dia ke kerajaan bawah laut kita. Dan jangan lupa, basuh dengan air laut!!” pesan ayah Shiky lalu menghilang dibalik batu.
Shiky memeluk putrinya, tapi bayi itu masih tetap tidak bergerak dan matanya masih membelalak lebar-lebar. Shiky menatap wajah putrinya. “Ada apa, Little mermaid-ku? Kau merasa sakit? Ayo bergeraklah, bersuaralah, menagis juga tak apa. pokoknya lakukan apa saja…” pinta Shiky pelan sambil menitikkan air mata.
Roman memeluk istrinya yang masih terduduk lesu diatas pasir pantai yang berwarna putih. Dia lalu memandang wajah putrinya juga. “Little mermaid, papa mohon…” Roman lalu mengelus kepala putrinya.
Bayi itu terlinjak kaget dan mengerjapkan matanya. Semua orang ikutan kaget. Semenit berlalu, Shiky dan Roman mulai putus asa. Lalu tiba-tiba setitik air jatuh diatas pasir dan berubah menjadi mutiara kecil yang berkilauan meskipun berukuran kecil. Bibir bayi itu bergetar badannya mula menggeliat-geliat didalam pelukan ibunya. Lalu, “OWEEEEEKKK!!! OWEEEEEEKK!!! OWEEEEKKK!!!”
Bayi itu menangis keras sekali, tetapi hanya orang-orang yang ada dipantai saat itu saja yang bisa mendengar suaranya yang seperti bunyi lonceng yang merdu. Semuanya terhanyut karena bunyi itu, tetapi Shiky masih tetap tidak bisa tenang, karena perasaannya masih belum enakkan. Lalu semua orang terbelalak kaget melihat darah mengucur deras dari lengan kanan bayi itu.
“Obat merah! Alkohol!! Pokoknya apa saja yang bisa menyembuhkan luka berdarah, kalian bawa kesini!!!” perintah Roman.
Semua pelayan langsung lari tunggang-langgang setelah mendengar perintah. Ada yang berlari masuk kerumah, ada yang berlari ke jalan raya untuk pergi ke apotik, kerumah warga, bahkan kekandang ternak milik warga. Satu-persatu pelayan sudah kembali. Segala macam jenis obat sudah diberikan untuk menghentikan pendarahannya, tapi darah itu malah makin mengalir deras.
“Apa yang harus kita lakukan?!” Tanya Shiky panik, begitu pula semua pelayan yang berjumlah sekitar limapuluh orang.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?!” Roman mencoba berpikir keras. “Sudah kubilang, basuh pake air laut….” Suara itu tiba-tiba terdengar oleh Roman, dia lalu merobek kain baju tidurnya dan membasahinya dengan air laut. Saat hendak membasuh luka putrinya, tangannya dihentikan oleh Shiky.
“Hentikan, Roman! Kamu mau dia lebih kesakitan lagi? Sudah cukup ayah yang membuatnya jadi seperti ini!” tegur Shiky.
“Shiky! Percayalah padaku!” kata Roman lalu membasuh luka putrinya menggunakan kain bajunya. Perlahan-lahan luka itu menutup. Tapi karena sudah terlalu lama atau karena memang disengaja oleh orang tua tadi itu, luka bayi itu meninggalkan bekas yang berbentuk putri duyung memegang buket bunga dengan sebuah bunga terselip di salah satu telinganya.
***
Jam setengah tujuh, Aoi sudah selesai sarapan dan bersiap kesekolah. Sebelum keluar rumah, dia kembali memeriksa seragam putih abu-abunya yang sudah disetrika rapi, topi dan dasi yang dikenakannya, sepatu hitam dan kos kaki putihnya juga. Selesai memeriksa semua atribut sekolahnya, Aoi membetulkan jam tangan biru lautnya yang kurang pewe dan merapikan rambutnya yang sebatas bahu. Setelah itu, Aoi berjalan keluar rumah sambil menggandeng beberapa buku cetaknya dan memakai tas punggung hitam kesayangannya.
Didepan gerbang rumahnya, Aoi menunggu angkot yang masih satu persatu lewat. Biasanya angkot baru ramai kalo udah tinggal lima menit jam tujuh.
Aoi berdiri dalam diam. Setelah beberapa menit menunggu, dia lalu mengedarkan pandangan kalo-kalo ada teman yang berasal dari sekolah yang sama dengannya. Aoi melihat seorang siswi cewek yang berdiri nggak jauh dari tempatnya, kebetulan dia teman sekelas Aoi. Cewek itu melihat Aoi. Mereka sempat saling menatap beberap menit sebelum cewek itu buru-buru langsung menundukkan wajah. Padahal, Aoi baru saja mau menyapanya.
Angkot yang ditunggu datang, Aoi segera naik. Saat angkot itu berdiri didepan cewek teman sekelas Aoi, cewek itu nggak mau naik angkot. Dia sempat memandang takut pada Aoi sekilas. Itu membuat Aoi tertunduk lesu.
****
Jam tujuh kurang dua menit, dengan tergopoh-gopoh serta nafas ngos-ngosan, Dika berusaha menerobos pagar yang mulai ditutup oleh Pak Samit, satpam SMA Nusa. Karena gerakan Dika yang langsung nerobos itu Pak Samit hampir aja ngejepit badan Dika di pintu pagar.
“Hei!! Dika!!” tegur Pak Samit. “Kamu ini! Nggak bisa bilang permisi dulu, apa?”
Dika cengengesan. “Sorry, Bang Bro!!” balas Dika sambil melambaikan tangan kanannya tinggi-tinggi. Dia lalu berlari secepat mungkin menuju barisan kelasnya yang berada tepat disamping barisan guru.
Upacara hari ini nggak beda dengan upacara dihari-hari sebelumnya. Mulai jam tujuh tepat, matahari bersinar cerah dan awan nggak bisa diajak kompromi karena semuanya udah pada ngilang sehingga langit menjadi bersih dan benar-benar biru, barisan guru yang saat upacara baru dimulai begitu rapi tapi ketika Pembina upacara memberikan message and instruction, barisan itu mulai menjadi gaduh, barisan kelas dua belas yang berada tepat disamping barisan guru, barisan kelas sebelas yang berada didepan barisan kelas dua belas dan barisan guru, serta barisan kelas sepuluh yang menghadap Pembina upacara dan tiang bendera.
Excuse me! Kasih gue tempat dong!!” tegur Dika pada barisan didepannya setelah dia membuang tasnya begitu aja di taman depan kelas XII-iA 1. Setelah teman-teman Dika sepakat memberikan barisan paling depan buat Dika, Dika langsung berjalan pelan menuju tempatnya, takut kalo ada guru yang melihantnya mengacaukan barisan.
Setelah berdiri didepan, Dika langsung mengedarkan pandangannya keseluruh peserta upacara yang bisa diliatnya. Pandangannya terpaku pada sosok cewek yang berdiri sejejar dengan moderator upacara. Dia lalu melirik Sinta, cewek yang kebetulan berbaris disebelahnya.
“Sin! Tu cewek siapa? Tugas dia apa? Setau gue semua pelaksana upacara udah pada lengkap. Ngapain dia baris sejajar dengan moderator?” Dika melirik cewek itu.
“Lo nggak tau?! Tu cewek kan pemegang predikat siswa teladan disekolah ini selama dua tahun berturu-turut. Dan sekarang dia bakal diberikan gelar itu lagi untuk tahun ketiganya!”
“Eh?!” Dika memekik, sontak semua paserta upacara yang mendengarnya langsung melotot garang pada Dika soalnya suasana udah pada tenang karena upacara udah dimulai. Dika langsung menyebarkan senyumnya – yang katanya bisa memikat hati cewek-cewek – kepada semua orang yang melototinya. “Kok gue baru liat, ya?”
“Ya elah! Selama ini kan lo selalu nggak ikut upacara, dan kalopun lo ikut, lo selalu baris paling belakang, jadi nggak bakal mungkin lo tau!”
“Hehehe!” Dika malah nyengir. “Lo tau lah…. Bagi gue, insting mengalahkan semuanya!”

Upacara selesai, semua siswa berbondong-bondong menuju kantin dan kelas masing-masing untuk berlindung dari teriknya matahari. Aoi berjalan pelan menuju kelasnya, XII-iA 1. Aoi berjalan lesu sambil memegang kertas yang untuk ketiga kalinya dia peroleh. Sebelum masuk kelas, Aoi duduk sebentar diteras depan kelasnya. Aoi terus saja memperhatikan orang yang lalu lalang didepannya dan sesekali membaca tulisan yang ada dikertas yang dipegangnya.
Aoi menatap taman kecil didepannya. Taman itu dipenuhi bunga-bunga yang beraneka warna, ada merah, kuning, dan pink. Selain itu ada juga beberapa pohon kecil yang mulai rindang meskipun belum bisa dijadikan tempat berteduh. Aoi melihat beberapa kupu-kupu hinggap di bunga yang berwarna merah yang tumbuh di sudut paling depan taman. Lalu sebuah kepala nyembul dari balik bunga yang tingginya selutut itu.
Dika menyembulkan kepalanya untuk memastikan kalo tidak ada lagi guru yang berada didekat tempat persembunyiannya. Saat upacara tadi, Dika ketahuan tidak berseragam lengkap, yakni kurang ikat pinggang. Selain itu, tali sepatu Dika juga berwarna merah ngejreng, jadi sejak awal emang dia sudah pasti kena patroli. Jadi saat para siswa udah mulai bubar, Dika santai banget ikut bubar padahal barisan yang kena patroli sama sekali belum dibubarkan, bahkan mungkin sampai jam istirahat. Sialnya, saat udah hampir mengambil tasnya, Bu Ika, guru piket jaga hari senin sekaligus guru BK nongol dari balik pohon yang berada dekat dengan kelas XII-iA 1. Jadi mau nggak mau, Dika terpaksa lompat kedalam taman dan bersembunyi sampai keadaan aman.
Aoi terlonjak kaget. Dia hampir aja berteriak, tapi kemudian menutup mulutnya. Berteriak pun tak akan ada yang menghiraukanku, batin Aoi. Aoi hanya bisa menatap bingung cowok yang nggak dikenalinya itu.
“Sssttt!!!” Dika menempelkan telunjuknya di bibir sambil memandang wajah Aoi. “Jangan ngomong kesiapa-siapa, ya?! Hanya tiga aja yang boleh tau. Gue, lo, dan Tuhan Yang Maha Melihat. Okey?” Aoi hanya mengangguk. Dika lalu berdiri dan berjalan dengan santainya.
Aoi segera berdiri dan berjalan menunju pintu kelasnya. Belum sempat masuk kedalam kelas, Dika kembali lagi dengan nafas ngos-ngosan.
“Tas gue ketinggalan!!” pekik Dika sambil cengengesan. Dia lalu mengedarkan pandangannya sekeluruh pelosok taman, tapi dia tidak menemukannya. Lalu matanya tertuju pada sesuatu yang berada tidak pada seharusnya. “Taaaasskuuuuu!!!” pekik Dika lalu berhambur menuju Aoi.
“Maaf, aku menemukannya. Aku pikir ini milik salah satu temanku” Aoi berbicara sambil tertunduk, berusaha membuat wajahnya tersembunnyi dibalik rambutnya yang sebahu.
“Ah! Tidak usah sungkan begitu!! Gue tau kalo lo nggak mungkin mau berniat jahat kan?!” Aoi hanya mengangguk masih tetap tertunduk. “Nah!! Sekarang gue mau balik kekelas gue dulu, bye!!” Dika langsung ngibrit kekelasnya.
“Baru kali ini ada orang yang ngomong gitu ama aku…” Aoi masih terus tertunduk. Tiba-tiba dia merasakan air matanya jatuh. Dia senang sekali ada yang ngomong normal ama dia.
***